Crayon Shinchan

 


Crayon Shinchan


Shaloom, 

Apabila kita berbicara mengenai heboh Crayon Shinchan, sebenarnya ada tiga pihak yang perlu dituding sebagai penyebab kemelut ini. 

  1. Penerbit yang tidak menyertakan rating umur (Sekarang sudah menyertakan rating umur) 

  2. Orang Tua yang kurang memperhatikan bacaan / tontonan anak

  3. Masyarakat Indonesia (yaitu kita) yang kurang memahami budaya Jepang.

Mengapa saya cenderung mempersalahkan ketiga pihak ini ? Karena ternyata dari asalnya, Crayon Shinchan bukanlah untuk konsumsi anak - anak, sebagaimana banyak film animasi / komik Jepang lainnya. Jadi Penerbit di Indonesia patut dipersalahkan karena ini. 

Crayon Shinchan, sebagaimana kurang ajarnya dan vulgarnya, saya pandang tidak pernah lebih dari sekedar hiburan dewasa. Dewasa dalam artian masih dalam batas - batas kesopanan untuk manusia dewasa. Bahkan sindiran atau lebih tepatnya protes Yoshitu Usui terhadap keadaan di Jepang ini boleh saya katakan cukup bagus dan mengena. Mengapa saya katakan demikian, karena setelah konsultasi dengan beberapa pakar budaya Anime di dalam dan luar negeri, serta menyaksikan dan membaca sendiri beberapa episode Crayon Shincan, saya berhasil menyimpulkan beberapa hal.

  1. Crayon Shinchan adalah sindiran terhadap moral manusia dewasa di Jepang, sekaligus refleksi bagaimana manusia setengah dewasa dan anak - anak terkena imbasnya.

  2. Crayon Shinchan menunjukkan betapa budaya kawin muda di Jepang (dulu) dapat membuahkan masalah besar (di masa kini) dalam membesarkan anak.

  3. Peran wanita di Jepang yang ironisnya, sampai hari inipun masih cenderung dianggap sebagai obyek seks dan budak rumah tangga.

  4. Shinchan sebagai anak berusia 5 tahun, lebih banyak meniru tingkah laku pria  dewasa (Ayahnya serta tokoh idolanya Manusia Super Bertopeng di TV) sebagai  pencarian figur seorang ayah. (Ayahnya sendiri sebagaimana pria Jepang umumnya terlalu sibuk bekerja, dan minum sake atau ke Pub sehabis bekerja).

  5. Shinchan, sebagaimana pula anak - anak kita memiliki hak untuk berbuat salah karena dia tidak sadar apa yang sebenarnya dia lakukan.  

Jadi apabila anda marah, jengkel bahkan ingin melarang Crayon Shinchan untuk ada di Indonesia, adalah bukti kesuksesan Yoshito Usui yang melalui Crayon Shinchan ini berusaha menunjukkan protesnya terhadap keadaan di Jepang saat ini. 

Mengenai tudingan saya terhadap orang tua, saya rasa Crayon Shinchan sendiri sebagai sebuah komik / animasi kartun, juga sudah berusaha memperingatkan kita semua para orang tua. Orang Tua yang jarang menghabiskan waktu dengan anak - anaknya, memiliki potensi mengubah anak menjadi shinchan - shinchan lain. Di dalam pengalaman pelayanan saya, saya menjumpai anak - anak yang sudah berani membeli buku porno, VCD porno dan bahkan tidak jarang di jaman sekarang ini anak - anak SMA yang sudah kehilangan keperawanan  atau keperjakaannya. Bahkan di beberapa Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) tertentu, saya menyaksikan jumlah anak - anak yang ingin didoakan karena sudah pernah melakukan hubungan seks, mencapai lebih dari 80% dari jumlah peserta KKR. Jadi intinya, apabila anak - anak kita kurang ajar, orang tua perlu bertanya, benarkah kita cukup mengajar mereka. Wajar bila anak menjadi kurang ajar bila orang tua kurang mengajar.

Mengenai budaya, kita perlu akui bahwa banyak sekali budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan budaya bangsa kita. Bagaimana peran kita dalam mempertahankan nilai - nilai kita di tengah - tengah serangan budaya asing yang masuk sebagai bagian dari era globalisasi ? Sekali lagi orang tua dan para pendidik dipanggil untuk menjawab pertanyaan ini. 

Yang Terakhir, saya mengingatkan bahwa kita tidak mungkin melarang Shinchan untuk beredar, atau bakan menghentikan arus globalisasi. Dan sebagai bukti dari ucapan saya ini, sebagai jawaban dari banyaknya protes dari orang tua, penerbit bukannya dilarang untuk mengedarkan komik Shinchan, tetapi sekarang menyertakan rating atau batasan umur. Bahkan menurut rekan - rekan di Mangga Dua, VCD Crayon Shinchan  justru semakin banyak digandrungi. Sehingga pada akhirnya, untuk menjaga anak - anak kita dari pengaruh buruk ini, pilihannya hanya ada dua, membuat anak semakin dekat dengan kita, atau dengan Shinchan. Pilihannya ada di tangan anda.

In Him, 

Ev. A Sugeng Wiguno

 


PROTES DARI ORANG TUA

Orangtua yang mempunyai anak kecil sebaiknya lebih selektif memilih bacaan
komik untuk anaknya. Ini telah dibuktikan beberapa waktu lalu. Buku yang
dibeli istri sebenarnya biasa saja. Action Comics Crayon Shinchan. Apalagi
di belakang buku ini ada kupon gratis salah satu restoran (semacam voucher),
sehingga tanpa curiga istri membeli. Kalau dilihat dari sampul bukunya,
kelihatan seperti komik lucu. Sepintas buku ini adalah komik Jepang biasa,
tapi kalau dilihat dan dibaca isinya dapat disimpulkan berbau porno, jorok
dalam arti sesungguhnya dan jorok dalam arti tanda kutip.

Juga kurang ajar dan tidak pantas untuk seorang berusia lima tahun (balita)
yang masih di taman kanak - kanak, seperti seorang Crayon Shinchan. Saya
memiliki volume ke 7 dari buku itu. Kami mengecek dengan orangtua dari teman
anak saya yang punya volume ke 2. Hasilnya tidak berbeda. Isinya bukan komik
lucu tetapi komik porno dan kurang ajar untuk anak - anak. Kepada orang tua
yang anaknya sudah memiliki buku ini, silakan mengecek dan membuktikan.

Sandrisman Muliadi
Griya Pratama IV B
Kelapa Gading, Jakarta Utara
(dimuat di harian Kompas edisi Minggu 26.11.2000)


    

"Juga kurang ajar dan tidak pantas untuk seorang berusia lima tahun..."


Links Crayon Shinchan

 

Writer: Yoshito Usui
First published: 1992
Publisher (Japan): Futabasha
Publisher (Thai): Ned Comics
Links: 
 
Crayon Shin-chan Guide
Crayon Shinchan: Ho Hoi!
Crayon Shinchan Manga Page
Shin-Chan HomePage
Crayon Shinchan
Bo-Chan's Crayon Shinchan Page
Genki: Crayon Shinchan

Shinchan Diprotes, Shinchan Digandrungi

Komik Crayon Shinchan mengundang banyak protes. Ada yang menilai isinya berbau pornografi dan kurang ajar.

SETIAP ke toko buku, Murti Bunanta kerap menyempatkan diri ke kelompok buku bacaan anak-anak. Maklumlah, ibarat hidangan, buku cerita anak adalah makanan kesukaan doktor sastra anak ini. Dan, waktu berkunjung beberapa bulan lalu, mata Ketua Kelompok Pencinta Bacaan Anak itu "tergoda" pada sebuah komik yang agak lain. Soalnya, komik yang berjudul Crayon Shinchan, karya Yoshita Usui dari Jepang, itu disegel dengan stiker hologram original. Dengan demikian, isi komik yang edisi Indonesia diterbitkan oleh PT Indorestu Pacific itu tak bisa dibaca sama sekali oleh calon pembelinya.

Meski begitu, untuk diketahui, para pembeli dapat membaca sampul belakang. Di situ disebutkan bahwa Crayon Shinchan adalah seorang anak taman kanak-kanak berusia 5 tahun yang sangat nakal dan konyol. Kenakalannya melebihi anak seusianya, sehingga sering menimbulkan masalah pada orang di sekitarnya: ayah, ibu, guru, dan temannya.

Ini agaknya yang menarik perhatian dan sekaligus "menyebalkan" dosen Fakultas Sastra Universitas Indonesia itu. Dengan rasa kurang puas, komik tersebut tetap dibelinya dan ditelitinya. Kesimpulannya: komik tersebut menipu para pembaca. Sebab, komik itu menggunakan tokoh anak untuk mengungkapkan sikap dan pikiran orang dewasa. Karena itu, sebagai ilmuwan, ia merasa terpanggil untuk melindungi anak-anak Indonesia dari pengaruh buruk yang mungkin ditimbulkan komik Jepang tersebut.

Langkah awal yang dilakukannya adalah mengirim surat pembaca ke berbagai media massa. Tujuannya adalah memberitahukan kepada masyarakat luas bahwa komik tersebut "berbahaya" bagi anak-anak. Ternyata, Murti tidak sendirian. Beberapa bulan sebelum ia mengirim surat pembaca, sudah ada dua orang yang menulis surat pembaca di harian Kompas, misalnya. Mereka mengingatkan para orangtua agar berhati-hati membeli komik untuk anaknya. Jangan sampai membeli komik Crayon Shinchan, yang katanya berbau porno dan kurang ajar, perangai yang tak pantas untuk anak usia balita seperti Crayon Shinchan. "Kami prihatin. Bila buku itu beredar di masyarakat luas, tentu akan berdampak negatif terhadap perkembangan anak-anak," tulis pembaca tersebut.

Begitu pula orangtua lain. Bahkan, ada seorang ayah yang tersentak mendengar pertanyaan anak perempuannya yang berusia delapan tahun. "Apa, sih, playboy itu, Yah?" tanya sang anak dengan polosnya. Sang ayah tak menjawab, tapi malah bertanya, "Dari mana kamu tahu itu?" Sang anak yang bernama Vikra Alizanovic itu menjawab, "Rahasia, deh." Setelah ditelusuri, tenyata yang ditanyakan anaknya itu ditemukan pada judul Crayon Shinchan volume kedelapan, "Hm...hm...hm...Aku si Playboy Kecil", milik teman anaknya. Sejak itu sang bapak melarang si anak membaca komik yang sulit dipahami anaknya tersebut.

Kekhawatiran ini, tampaknya, juga telah merambah ke beberapa sekolah. Sekolah Dasar Harapan Ibu, tempat penyanyi cilik Sherina Munaf belajar, sudah lama melarang muridnya membawa dan membaca Crayon Shinchan ke sekolah. Soalnya, ada sebagian wali murid yang protes dan meminta sekolah membuat peraturan supaya murid tidak membaca Crayon Shinchan. Larangan seperti ini juga diterapkan di sebuah madrasah di kawasan Ciputat. Itu terjadi sejak ada laporan dari seorang murid yang menyebutkan bahwa di Crayon Shinchan volume I ada adegan pornonya.

Terakhir, protes semacam ini juga telah disampaikan ke Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Umumnya, para konsumen tidak ingin Crayon Shinchan dijual bebas. Protes ini semakin memasyarakat setelah dua harian Ibu Kota mengangkatnya secara berturut-turut.

Protes terhadap Crayon Shinchan memang bukan hal baru. Jauh sebelumnya sudah pernah melanda Taiwan dan Korea Selatan. Bahkan, di negeri asalnya, Jepang, sekitar tujuh tahun lalu, komik Shinchan pernah menyulut kemarahan kaum ibu dan para guru. Tapi, sekarang, kemarahan itu sudah mereda. "Mungkin mereka sudah terbiasa dengan gaya komik tersebut," kata Masashi Nakano, salah seorang manager di Futaba Sha Ltd., penerbit Crayon Shinchan, kepada Shizuko Ito dari GAMMA.

Benarkah demikian isi komik tersebut? Untuk menjawabnya, silakan buka lembaran-lembaran Crayon Shinchan dari jilid 1 hingga 8. Di halaman 56 Crayon Shinchan volume 1, misalnya. Di situ terlihat adegan kedua orangtua Shinchan yang sedang menyalurkan kebutuhan biologis mereka tanpa mengunci pintu kamar. Sikap ceroboh ini, ternyata, mendatangkan akibat. Tiba-tiba Sinchan terbangun karena mau buang air. Ia lalu masuk ke kamar orangtuanya yang sedang asyik masyuk itu. Ternyata, dalam pandangan anak nakal yang lucu ini, ayah dan ibunya sedang bermain gulat. "Main gulat diam-diam, saya juga mau," kata Shinchan mengomentari keadaan orangtuanya itu. " Iya, ini gulat," kata sang ibu dengan terpaksa membohongi anaknya untuk menghindarkan malu.

Suatu ketika (volume ketiga), Shinchan bertemu Riyo Jualaku, 27 tahun, single, sales lady dari perusahaan Mayutsuba, yang berdandan menor. Tanpa basa-basi, anak polos ini bertanya kepada gadis tersebut, "Punya burung tidak?" Di buku lain, tampak Shinchan sedang menunjuk bokong seorang pramuniaga sambil bertanya, "Papa liatin ini, ya?" Pertanyaan ini membuat sang ayah tersedak, sehingga minuman yang ada di mulutnya tersembur ke luar. Lalu, sang ibu menasehati anak tunggalnya, "Crayon, kamu jadi anak baik, kan?" Sikap lembut ibunya ini disambut baik Crayon.

Nukilan seperti ini tentu masih banyak lagi. Tapi, ketiga cuplikan cerita di atas cukup menggambarkan "kepornoan" komik Crayon Shinchan yang memang tidak pantas dibaca anak-anak. Selain berbau porno, oleh pengkritiknya, komik ini juga menjual adegan kurang ajar terhadap orang tuanya. Contohnya, ketika pipi Shinchan dicubit ibunya, spontan ia memaki ibunya sebagai "nenek kejam". Terkadang Crayon juga mencemooh ibunya seperti ini, "Mama cantik, kulitnya kasar seperti kulit ikan hiu." Masih banyak lagi contoh lain.

Komik ini, tentu, tak akan mengundang protes bila tidak diminati anak-anak. Masalahnya, komik yang ilustrasinya terkesan asal-asalan ini ternyata digemari anak-anak. Coba lihat di Gramedia Bandung. Meski tidak menjual Crayon Shinchan, di toko buku terbesar di Jawa Barat ini cukup banyak orangtua yang menanyakan Crayon Shinchan. "Dalam lima menit ada satu orang yang menanyakannya," kata Lunardi Harianja, staf Kepala Toko Gramedia Bandung. Jika toko buku itu buka 12 jam sehari, jumlah yang menanyakan Shinchan ada 144 orang. Jadi satu minggunya, menurut penghitungan Lunardi, lebih kurang seribu orang yang bertanya.

Di Gramedia, Jalan Basuki Rachmat, Surabaya, penjualan komik Crayon Shinchan mengungguli komik lainnya. "Ya, lebih kurang dua kali lipat komik biasa," kata Gusmarinda, manajer toko buku tersebut. Karena laris, toko buku ini mengubah pikiran dari tidak mau menjual menjadi ikut memperdagangkan Crayon Shinchan. Padahal, di mata Gusmarinda, isi Crayon Shinchan agak kotor untuk anak-anak.

Peminat Crayon Shinchan bisa dilihat juga pada jumlah penonton film animasi Crayon Shinchan yang cukup banyak. Film yang ditayangkan RCTI setiap Minggu pagi sejak Juli lalu itu (26 episode) memiliki rating 9 hingga 11. "Ini berarti film tersebut ditonton sembilan hingga sebelas persen dari setiap 100 penonton," kata Humas RCTI, Murdjadi Ichsan, seperti dikutip harian Republika. Bahkan, menurut Murdjadi, banyak masyarakat yang minta jam tayangnya ditambah menjadi satu jam.

Daya pesona Crayon Shinchan pada anak memang tak dapat dimungkiri. Daya tarik ini setidaknya menghinggapi diri Wulan. Pelajar kelas 6 SD Kaliasin VII, Surabaya, ini mengaku suka kepada Shinchan. Katanya, "Itu karena bandel, tapi lucu." Ira, pelajar kelas dua sebuah SMU swasta di Surabaya, termasuk yang keranjingan membaca Crayon Shinchan. "Ia itu lucu, tapi lucunya beda dengan Doraemon. Lucunya gimana, ya. Lucu-lucu konyol, gitu," kata Ira memberi alasan mengapa ia suka pada Crayon Shinchan kepada Nurul Amalia dari GAMMA.

Tampaknya tak hanya murid sekolah yang menyukai Crayon Shinchan. Orang dewasa pun sangat suka. Itu terlihat, misalnya, pada diri Andi Yudha Asfandiyar, 34 tahun, Manajer Division of Children & Young Adults Penerbit Mizan, Bandung. "Saya suka membacanya. Komik ini cocok untuk orang seusia saya," kata pengamat komik itu. Di mata Andi Yudha, Crayon Shinchan adalah anak TK yang polos, lugu, dan lucu. Bila mendapat perintah dari orang dewasa (ibu, ayah, dan gurunya), perintah itu ia kerjakan menurut pandangannya sendiri, sehingga sering terjadi benturan.

"Ini wajar saja dilakukan anak seusia Crayon Shinchan yang masih polos dan dunianya adalah bermain," kata Andi Yudha. "Tapi, komik ini memang konsumsi untuk orang dewasa, kira-kira SMA ke atas," tambahnya. Soalnya, isinya mengkritik orang dewasa yang memandang anak kecil secara salah, bahkan meremehkan anak kecil. Lihat saja pada adegan di bawah ini.

Suatu ketika ayah Crayon berpesan kepada anaknya, "Crayon, nanti kalau ada orang mencari Bapak, bilang saja Bapak sedang pergi. Bapak ingin istirahat." Nah, ketika tamu datang, Crayon mengatakan kepada sang tamu apa adanya. "Kata Ayah, kalau ada tamu datang, suruh bilang bahwa Ayah sedang pergi. Sekarang, sebenarnya, ayah sedang istirahat," ujar Crayon.

Lalu, di mana letak kesalahannya? Bagi Yudha, kesalahan selama ini terletak pada cara pandang orangtua terhadap komik ini. Banyak orangtua beranggapan bahwa komik itu lucu, bergambar kartun, dan tokoh utamanya anak kecil --tanpa membaca isi cerita dan nilai-nilai yang dikandung komik tersebut. Itu berarti komik bisa dikonsumsi anak kecil, padahal belum tentu bisa.

Arswendo Atmowiloto, pengarang dan pengamat buku cerita anak, juga berpandangan demikian. Baginya, komik Crayon Shinchan tidak porno. "Komik Crayon Shinchan ini dianggap porno karena yang membacanya merasa anak-anak," kata Arswendo. Komik itu, menurut Arswendo, memang tidak pas untuk anak-anak, tapi untuk anak SMU tidak ada masalah.

Di negeri asalnya komik ini pada awalnya memang untuk orang dewasa. Itu bisa dilihat, misalnya, pada media tempat Crayon Sinchan pertama kali dipublikasikan ke masyarakat Jepang, Agustus 1992: Shukan Manga Action. Majalah mingguan komik aksi ini khusus buat orang dewasa. Itu pun penggemarnya kaum pria yang sudah bekerja. Tapi, dalam perjalanan waktu, pengemar menjadi meluas, dari anak kecil hingga orang dewasa.

Hal ini, tampaknya, tak lepas dari pengaruh televisi. Seperti dikatakan Arswendo atau Andi Yudha, bila tayangan cerita itu sukses di televisi, biasanya buku dan lainnya ikut sukses. Itulah yang dialami komik Crayon Shinchan, yang film animasinya ternyata sangat digemari anak-anak. Meski tidak paham terhadap isinya, anak tetap saja gemar membali buku Crayon Shinchan.

Karena itu, membaca komik ini, saran Andi, harus didampingi orangtua. Soalnya, di komik itu juga terdapat nilai-nilai yang baik. Misalnya, ketika melihat orang sakit, Shinchan membawa buah tangan. Namun, saat itu terjadi kekeliruan, yakni ketika oleh-oleh itu diletakkan Shincan di kaki si sakit. Nah, kekeliruan ini perlu dijelaskan.

Persoalannya kini tinggal pada penerbit. Seharusnya penerbit mencantumkan batas usia pembacanya, sehingga orangtua tidak "tertipu" dengan sampulnya yang bergambar anak kecil. Rupanya, hal itu telah dilakukan penerbit sejak jilid kedelapan.

-Julizar Kasiri, Gagak Lumayung, Rika Condessy, Julie Indahrini, dan Seiichi Okawa


Komik Dewasa yang Digemari Anak

Di Jepang oplah komik Crayon Shinchan mencapai 25 juta eksemplar! Komik yang diperuntukkan orang dewasa yang juga disukai anak bau kencur.

"GUE sudah cari komik ini ke mana-mana. Eh tahunya dapet di sini. Gimana enggak girang," kata Dewi, 23 tahun, setengah berteriak sambil mendekap komik Crayon Shinchan edisi 8. Dewi adalah satu dari ribuan, bahkan mungkin jutaan remaja dan anak-anak yang terkena virus baru: demam Crayon Shinchan.

Di rak buku toko buku (TB) Gunung Agung Kwitang, tempat Dewi melompat kegirangan, tinggal 15 eksemplar dari 1.000 yang disediakan. "Kami sampai meminta tambahan stok dari Gunung Agung Lokasari," tutur Donny S. Sutadi, pengelola TB Gunung Agung Kwitang. Donny tahu komik Shinchan menjadi perdebatan di tengah masyarakat. "Memang kurang mendidik. Tapi kan buku tidak selalu harus mendidik. Bisa juga cuma menghibur. Dan komik Shinchan cukup menghibur," tutur Donny kepada Rita Hendriawati dari GAMMA.

"Di sini hampir setiap lima menit ada saja orang yang menanyakan komik Shinchan," tutur Lanuardi Harianja, staf TB Gramedia Bandung. "Jadi, kalau dihitung, di toko kami saja, setiap jam ada 12 orang mencari komik Shinchan. Kalau toko buka sehari 12 jam, maka sudah 144 orang yang tanya Shinchan." TB Gramedia Bandung sebenarnya ingin meraup untung dari Shinchan, "Tapi, karena kami menganggap isinya kurang mendidik, kami tidak ikut menjual," tutur Lanuardi kepada Gagak Lumayung dari GAMMA.

Pengelola TB Gramedia Yogya mengungkap hal yang sama. "Sejak November lalu, kami terus-menerus didatangi remaja dan anak-anak yang menanyakan komik ini," tutur Haryono, seorang penyelia di TB Gramedia Yogya. Sama seperti TB Gramedia Bandung, TB Gramedia Yogya juga menolak menjual Shinchan. "Buku ini masuk dalam daftar black-list, karena tidak sesuai dengan misi kami," kata Haryono.

Itu baru cerita dari toko buku, yang selama ini menjadi jalur konvensional peredaran buku dan komik. Padahal, peredaran komik Shinchan tak hanya lewat jalur konvensional. Penelusuran GAMMA di jalur distribusi koran dan majalah menunjukkan kisah sukses penjualan komik ini sungguh dahsyat.

Sejumlah agen besar yang ditemui GAMMA, seperti Lubis Agency di kawasan Senen, Parasian Agency, Harianja Agency, dan Gelael Purba Agency di Jakarta, menyatakan penjualan Shinchan mencapai 100 persen. "Permintaan dari sub-agen terus mengalir. Bahkan, dari daerah, permintaan terus meningkat. Seperti di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pokoknya, berapa pun kami dikirim, pasti laku. Bahkan, komik yang agak rusak sedikit pun pasti laku," ujar Budi, sub-agen yang mengaku rata-rata telah menjual 50.000 eksemplar Shinchan per edisi.

Komik Crayon Shinchan karya Yoshito Usui pertama kali diterbitkan oleh Futabasha Publishers Ltd., Tokyo, Jepang, tahun 1992. Hak terjemahannya di Indonesia dipegang PT Indorestu Pacific, yang beralamatkan PO Box 4633, Jakarta. Cetakan pertamanya tertulis Februari 2000. Sampai saat ini di pasaran, sudah beredar delapan edisi komik Crayon Shinchan.

Kisah sukses Shinchan di Jepang lebih fantastis. "Oplahnya mencapai 25 juta eksemplar. Lumayan bagus," tutur Nakano, Manajer Divisi Lisensi dari Futaba Sha Ltd., yang berkantor pusat di Tokyo kepada Shizuko Ito dari Gamma. "Bagi Futaba Sha, komik Shinchan adalah sumber keuntungan utama," kata Nakano. Komik lain terbitan Futaba Sha yang paling laku "hanya" mencapai tiga jutaan eksemplar.

Yang menarik, di Jepang, komik dan cerita karya Yoshito Usui, 42 tahun, sebenarnya ditujukan untuk pembaca dewasa. "Istilahnya salary (bergaji) man," tutur Nakano. Selain dalam bentuk komik, cerita Crayon Shinchan hingga kini dimuat berseri dalam majalah Shukan Manga Action (majalah mingguan komik aksi) yang beroplah 250.000. Dalam versi buku, komik Shinchan telah diterbitkan 28 seri --seri terbaru diterbitkan awal bulan ini.

Meski diperuntukkan orang dewasa, belakangan remaja hingga murid taman kanak-kanak di Jepang juga gandrung. "Mereka suka dengan karakter Shinchan yang begitu energik," kata Nakano. Sekitar enam atau tujuh tahun lalu, sempat muncul protes dari kaum ibu dan pendidik di Jepang. "Tapi, itu dulu. Sekarang protes-protes itu sudah tak ada," katanya. Kini, komik Crayon Shinchan sudah merambah berbagai negara. Taiwan, Korea Selatan, Hong Kong, Malaysia, Thailand, Spanyol, dan Indonesia. Tentang munculnya protes dari sejumlah kalangan di Indonesia, Nakano menanggapi enteng. "Yang memilih kan para pembaca. Kalau pembacanya senang, kenapa salah?" tuturnya.

Selain muncul di majalah, cerita Usui-san juga menjadi tayangan tetap di sebuah stasiun televisi Jepang. Pernah juga dibuat versi layar lebar dan video. "Pokoknya, selama Usui-san mau menulis, kami akan tetap menerbitkan Crayon Shinchan. Entah sampai berapa puluh tahun lagi," Nakano berterus terang.

Apa kiat sukses Crayon Shinchan? "Saya kira resepnya ada pada karakter Shinchan yang begitu aktif, energik, bergiat, penuh semangat," kata Nakano. "Memang Shinchan tampak agak lancang, agak sombong. Tapi kan itulah wajah sebenarnya seorang anak."

Ini dibenarkan Andi Yudha, manajer buku anak dan remaja Penerbit Mizan, Bandung. "Lebih dari itu, menurut saya, karena ada filmnya di televisi. Kalau tidak ada filmnya, enggak mungkin laku seperti ini," tutur Andi Yudha, yang juga sudah menerbitkan ratusan komik. Di sisi lain, dari segi teknik, komik, dan animasi, Shinchan juga kreatif. "Di situ ada teknik exageration, atau unsur melebih-lebihkan. Misalnya, ada tokoh yang menangis, tapi air matanya digambarkan mengucur seperti hujan. Pada umumnya anak-anak suka dengan penggambaran seperti itu," kata Andi.

Maka, kisah sukses Crayon Shinchan mestinya menjadi masukan bagi pemerintah dan kalangan industri perbukuan, bahwa pasar komik begitu besar. Sayang, pasar itu justru dinikmati importir buku asing yang sering kali hanya memburu keuntungan daripada menyajikan bacaan bermutu dan mendidik. Vivi, petugas penjualan PT Indorestu Pasifik, misalnya, enggan memberi jawaban terhadap munculnya keberatan banyak pihak atas isi Crayon Shinchan. "Mengapa buku-buku kami yang dibajak itu tidak dipersoalkan," kata Vivi agak ketus. Menurut Vivi, penjualan komik Shinchan justru sebenarnya tidak istimewa. "Edisi pertama kami cetak hanya 9.000 eksemplar. Tapi edisi terakhir, edisi 8, kami cetak 40.000 eksemplar. Jadi, kalau Anda bilang di pasaran begitu banyak beredar, itu Shinchan bajakan," kata Vivi.

Adakah yang salah dari banjirnya buku impor? Tidak juga. "Ilmu pengetahuan kan sifatnya universal. Dan masyarakat kita sangat membutuhkan itu," tutur Retno Kristi, editor di PT Elex Media Komputindo yang banyak mengimpor buku asing, kepada Arie Winata dari GAMMA. Hanya membandingkan kisah sukses Shinchan, Doraemon, Dragon Ball, Ikyu San, dan ratusan komik impor, dengan komik produksi dalam negeri memang terasa menyakitkan.

Menurut Arswendo Atmowiloto, pemerhati komik dan cerita anak, kenyataan ini mestinya mengusik pemerintah dan bisnis penerbitan. "Faktanya sekarang, mengimpor komik jauh lebih murah dan menguntungkan ketimbang membuat sendiri," kata Wendo. Dengan biaya macam-macam yang harus dikeluarkan oleh penerbit komik, dari ilustrator, pembuat cerita, sampai pembuatan film, menurut Arswendo, biayanya bisa tiga kali lipat dari buku impor. "Yang lebih menguntungkan, kalau mengimpor bisa langsung satu paket, seratus judul plus film, misalnya," tutur Wendo.

Wendo benar. Film Crayon Shinchan, yang diputar RCTI setiap Minggu pukul 09.00, sarat iklan. "Tarif iklan pada jam tayang tersebut Rp 6 juta rupiah per 30 detik," tutur Irma Lubis, dari Humas RCTI. Menurut Irma, dibanding film animasi lain, peringkat film Crayon Shinchan cukup bagus. "Film ini menduduki peringkat ke-9," tutur Irma.

Menyedihkan? Begitulah. "Pokoknya, kita tidak akan pernah menang melawan serbuan buku impor," Arswendo menandaskan. Di sini pemerintah tidak pernah punya kebijakan tertentu tentang buku. Apalagi tentang buku anak. Padahal, di negara mana pun, bahkan negara Asia seperti Malaysia, buku anak mendapat perlindungan luar biasa, seperti bantuan kertas, pajak, dan seterusnya. "Itu yang membuat mereka bisa berkembang," Wendo menambahkan. Sementara, di sini dunia perbukuan kempis-kempis, Sinchan impor malah yang berkembang.

-Muchlis Ainurrafik, Rika Condessy, Seiichi Okawa, & Shizuko Ito (Tokyo)


(Gambar - gambar diambil dari game Crayon Shinchan versi PC Engine)


click untuk kembali

This web page acknowledges that all trademarks belong to their appropriate licensee. This is not an official PC Engine nor Crayon Shinchan  web site.

Join Club Malachi 3:18, a place for all Indonesia speaking Christian Youth to learn to know Him and to make Him known by learning and teaching each other. To join go to http://www.oocities.org/galaxy_m318 and fill in your email address – this club is absolutely free of charge.

 

Kembali ke Halaman Utama

Return to Main Page

About Galaxy WEBAdvertising Info Submit a Page
©2000 Galaxy M:318